Globalisasi Budaya

March 10, 2011 § Leave a comment

Dilihat dari literature sejarah, perilaku seks bebas sudah pernah menjadi tradisi dalam masyarakat zaman jahiliyah dulu. Zaman di mana kondisi masyarakat Arab pra-Islam yang sangat tenggelam dalam “tanah lumpur” kebodohan dan keterbelakangan. Masyarakat senang pertikaian dan pembunuhan, kekejaman dan suka mengubur anak perempuan. Potret social mereka begitu gelap, amat primitive dan jauh dari peradaban. Pada zaman itulah berlaku tradisi perkawinan model seks bebas.
Imam Bukhori meriwayatkan dalam sebuah hadist yang diceritakan melalui istri Nabi, Aisyah ra, bahwa pada jaman jahiliyah dikenal 4 cara pernikahan. Pertama, gonta-ganti pasangan. Seorang suami memerintahkan istrinya jika telah suci dari haid untuk berhubungan badan dengan pria lain. Bila istrinya telah hamil, ia kembali lagi untuk digauli suaminya. Ini dilakukan guna mendapatkan keturunan yang baik. Kedua, model keroyokan.

Sekelompok lelaki, kurang dari 10 orang, semuanya menggauli seorang wanita. Bila telah hamil kemudian melahirkan, ia memanggil seluruh anggota kelompok tersebut tidak seorangpun boleh absent. Kemudian ia menunjuk salah seorang yang dikehendakinya untuk di nisbahkan sebagai bapak dari anak itu, dan yang bersangkutan tidak boleh mengelak. Ketiga, hubungan seks yang dilakukan oleh wanita tunasusila yang memasang bendera / tanda di pintu-pintu rumah. Dia “bercampur” dengan siapapun yang disukai. Keempat, ada juga model perkawinan sebagaimana berlaku sekarang. Dimulai dengan pinangan kepada orang tua / wali, membayar mahar, dan menikah.

Jika menyimak 3 model pertama dalam perkawinan masyarakat zaman jahiliyah di atas, ada kesamaan budaya dengan perilaku seks bebas, MBA, prostitusi dan hamil di luar nikah yang kian marak di zaman sekarang. Adakah ini pertanda titik balik budaya kontemporer yang bakal kembali ke zaman jahiliyah yang primitive dan gelap seperti dulu ?
Tidak diragukan lagi bahwa kejadian besar yang menimpa umat Islam mendorong kita untuk selalu merenung tentang keadaan dan apa yang menimpa mereka dari pergantian hari dan tipu daya malam. Dulu, mereka berpegang teguh pada agamanya. Merekalah umat yang luhur, dimana tentara mereka dapat berdiri tegak di hadapan pasukan musuh yang melampaui batas, yang terbesar pada masa itu.

Mereka mengatakan “Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan umat ini dari penyembahan kepada hamba sahaya menuju penyembahan kepada Allah Ta’ala yang satu. Mengeluarkan manusia dari kezaliman berbagai agama kepada keadilan Islam. Membebaskan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat.”

Begitupun para penggantinya, pernah menyampaikan dengan penuh percaya diri kepada awan yang berhembus di udara, “Turunkanlah hujan sekehendakmu, maka pastilah curahanmu akan menimpaku.” Salah satu pemimpinnya menceburkan kudanya ke lepas pantai, dimana berakhirlah satu bidang bumi di hadapan matanya, lalu ia berkata, “Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa di belakangmu ada daratan dimana orang mengkafirkan Allah, pastilah aku akan memeranginya di jalan Allah.”

Maka (seolah-olah) bumi dilipatkan untuk mereka, semua kesulitan dimudahkan, dan tegaklah hukum keadilan dimana mereka berada. Dan (saat itu) tidak ada orang merdeka yang diperbudak di tanah mereka, juga tidak ada orang yang dizalimi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam(pernah) berdiri untuk jenazah orang Yahudi yang lewat di depan mereka seraya berkata, “Bukankan ia juga manusia?”

Dan khalifah mereka, Al-Faruq, pernah menyuruh seorang Nashrani dari mesir untuk meng-qishash anak dari gubernur mereka seraya berkata, “Sesungguhnya, seorang anak tidak memukul kecuali dengan kekuasaan ayahnya.” Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang kekal (dalam ingatan) hingga sekarang, “Ya ‘Amr, sejak kapan kamu memperbudak manusia, sedangkan ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Peradaban yang Manusiawi
Hampir berlalu satu atau dua generasi, hingga Islam menjadi sebuah ”butik peradaban” yang memiliki bangunan canggih. Di dalamnya menyatu berbagai penghasilan alam. Maka muncullah dari golongan ahli hadits Imam Bukhari, Muslim An-Nîsâbûrî, Abu Dawud as-Sajastanî, dan An-Nasai. Begitu juga Ibnu Hambali Al’Arabi Asy-Syibani. Dan dari golongan ahli tafsir diantaranya Ath-Thabari dan Qurthubi. Begitu juga Ibnu Katsir, Al-Arabi Al-Qurasyiyyi. Kemudian dari ilmu kedokteran dan filsafat diantaranya Ar-Raazi, Ash-Shaby, Ibnu Rusyd Al-Andalusy.

Mereka mengangkat syi’ar: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Mereka juga mempunyai seruan: “Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang asing kecuali dengan ketaqwaan.”
Zaman silih berganti, dan setiap sesuatu kalau tidak sempurna pasti ada kekurangan. Faktor kelemahan menghinggapi umat Islam dari sisi internal, juga faktor tekanan yang terus menerus dari sisi eksternal. Dan bergoncanglah martabat Islam dalam diri umat ini dan pimpinannya. Tentaranya rapuh dan perlawanannya luluh serta musuh-musuh punya pengaruh dari segala sisi. Benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala: “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”(QS. Al-Kahfi: 20).

Perang Salib

Semuanya dalam satu serangan yang dilancarkan kepada mereka dan menewaskan jutaan kaum muslimin. Hasil-hasil bumi mereka dirampas secara rapi dan budi pekerti anak bangsa mereka dihancurkan dengan Penjajah bangsa barat kemudian menancapkan cakarnya, dari Turkistan timur, Filiphina dan Indonesia dari sisi sebelah timur sampai negeri Spanyol dari sisi barat. Dan dari Eropa tengah di sisi utara sampai Afrika di sisi selatan.

sengaja. Di antara mereka terdapat jarak antara sebab-sebab munculnya kekuatan dan faktor-faktor kebangkitan.

Orang-orang dari pasukan Italia meneriakkan seruan yang bergemuruh setelah menggempur Libia: “Wahai ibu, janganlah engkau menangis, tapi tertawalah dan berharaplah, sungguh aku akan pergi ke Tripoli dengan perasaan riang gembira. Aku akan tumpahkan darahku untuk membinasakan umat! Untuk memerangi Islam dan aku akan memerangi dengan sepenuh kekuatanku untuk menghancurkan al-Qur’an.”

Orang-orang dari pasukan Inggris meneriakkan seruan seniornya, Gladiston yang mengatakan dengan penuh congkak: “Wajib untuk menghilangkan al-Qur’an.” Mereka juga melihat pimpinannya, Lord Lamby memasuki Al-Quds pada perang dunia pertama seraya berseru: “Hari ini Perang Salib telah usai.” Jenderal Prancis, Ghoro menendang makam Shalahuddin di Syiria, lalu mengatakan, “Kami datang kembali, wahai Shalahuddin.”

Setelah itu, warga dunia dikejutkan dengan kejadian yang dilakukan Serbia dan Kroasia terhadap muslim Bosnia… lima puluh ribu muslimah telah ternodai kehormatannya di hadapan mata dan telinga orang-orang Eropa dan Amerika dan juga pasukan PBB. Mereka dihamili oleh janin-janin anjing yang terlaknat! Sungguh tidak hanya mereka yang dicela dan dibenci, seharusnya kita mencela diri kita sendiri dan kelemahan kita.

Bobroknya Peradaban Barat

Kita tidak bersikap apriori dengan semua peradaban barat. Bahkan, kita mengakui apa-apa yang telah mereka persembahkan untuk kemajuan dunia dalam hal sains dan teknologi serta kebangkitan dalam ilmu pengetahuan, seni, politik dan sosial.

Bagaimana kita memungkiri itu semua, padahal kita adalah anak dari sebuah peradaban dimana Al-Qur’an mengatakan: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah:
Akan tetapi, pada waktu yang bersamaan kita membenci kelalaian, karena hal itu akan membuat kemurkaan Allah. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf: 179). Kita benci, Allah melihat kita termasuk bagian dari orang-orang yang lalai dimana mereka tidak mengenal musuh daripada teman.

Sungguh kita telah melihat benih-benih permusuhan atas diri umat Islam berdiri tegak di atas pondasi yang kokoh. Kita juga melihat hati-hati mereka terbakar oleh kedengkian, yang digerakkan oleh dongeng-dongeng sesat. Mereka jadikan dongeng itu sebagai agama hingga salah seorang senior mereka mengatakan, sesungguhnya Tuhan telah menurunkan wahyu untuk menggempur Irak dan merobohkan sistem peradilannya. Mereka mengatakan dengan lantang bahwa perang terhadap umat Islam adalah perang salib.

Kita telah mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa peradaban Eropa dan Amerika tidak ada kaitannya dengan agama masehi yang dibawa oleh Utusan Allah, Nabi Isa ‘Alaihis Salam.

Agama ini berdiri atas dasar toleransi dan cinta kasih. Kita sepakat apa yang pernah dikatakan Welez, pengarang kitab ‘Ma’alim fi Tarikh al-Insaniyyah (Petunjuk-petunjuk dalam Sejarah Manusia), penulis mengatakan: “Sesungguhnya bangsa Eropa telah terbiasa sejak lama menjadikan ajaran-ajaran Yesus Sang Penyelamat sebagai penghalang yang kuat.

Sejak Eropa masuk ke dalam era kebangkitan, mereka memutuskan untuk menjadikan agama dan gereja dalam kehidupan mereka tempat yang sejauh-jauhnya. Mereka memisahkan agama dari kehidupan dunia. Akan tetapi kita mendapatkan sekarang, agama menjadi tunduk kepada hawa nafsu mereka dalam kecongkakan dan keterpaksaan, seperti yang kita lihat. Mereka jadikan agama palsu itu lebih buruk dari apa yang diperkirakan yaitu kefanatikan yang terkutuk, dimana mereka tidak mengindahkan ajaran-ajaran langit lagi.

Kita mengetahui bahwa di barat banyak cendikiawan. Mereka tidak rela apa-apa yang berubah dari alam ini karena pengaruh peradaban mereka. Permusuhan ini membuat perasaan mereka tidak dapat tidur di alam ini, karena ulah siasat mereka.

Sesungguhnya 94 persen penghasilan dunia datang dari negara industri mereka dan 75 persen investasi dunia mengarah ke negara-negara mereka. Kekayaan alam berada pada segelintir orang-orang kaya. Dua ratus orang di negara mereka memiliki harta sebanyak 1 Milyar Dollar, sedangkan 582 juta orang di 43 negara-negara berkembang hanya memiliki 146 juta Dollar.
Satu juta orang yang hidup di negara-negara berkembang tidak memiliki cadangan air minum yang baik dan 43 juta manusia mengidap penyakit aids, buah dari eksperimen mereka.

Mereka mengeluarkan kekayaan alam untuk pembuatan senjata dan hal-hal lain yang berlebihan. Disamping itu, terdapat 73 juta penduduk arab hidup berada di bawah garis kemiskinan dan 15 juta orang pengangguran.

Apakah ini semua hasil dari peradaban mereka yang sekarang memimpin dunia, yang bisa membuat hidup ini abadi? Atau hal tersebut merupakan peringatan akan sebuah kehancuran bila tidak mengikuti pendapat para cendikiawan? Perhatikanlah, kehancuran Barat sudah di depan mata.

Makna Kemajuan Peradaban

Peradaban bukan sekadar kemajuan dari segi materi saja, akan tetapi ia adalah kemajuan dari segi materi yang berdiri berlandaskan asas-asas keruhanian dan akhlak yang luhur, serta nilai kemanusiaan yang agung.

Peradaban bukan terbatas pada perkembangan kota saja, akan tetapi merupakan sebuah anugerah umat dari segala sisi, baik materi maupun etika. Dan nilainya dilihat dari kebaikan manusia yang ada.

Benar apa yang difirmankan Allah Ta’ala kepada umat Islam: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” (QS. Ali Imran: 110) dan firman Allah: “Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi” (QS. Ar-Ra’du: 17).

Wahai Umat Islam!

Sesungguhnya putera-puteri kalian dituntut untuk memikirkan masalah ini lebih dari yang pernah dilakukan pada masa lalu. Mereka harus mengetahui kebutuhan manusia dan urgensi misi dakwah yang mereka emban serta peradaban yang mereka agungkan. Sesungguhnya semangat tinggi yang digelorakan pemuda-pemuda kita di hadapan agresi Barat dan Zionis-AS akan membangkitkan umat ini dari tidur panjangnya dan memperingatkan mereka dari tipu daya dan bualannya.

Sesungguhnya kita berada pada puncak sejarah yang dapat melumpuhkan peradaban yang penuh paksaan, perbudakan, kezaliman dan kecongkakan untuk memberikan tempat bagi peradaban yang lebih adil dan manusiawi.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS. Yusuf: 21)

maya sekarang ini.

Dengan demikian informasi jadi begitu mudah menyebar, sekaligus
mendorong terjadinya fenomena globalisasi budaya. Tapi problemnya tidak
semua warga dunia mampu mengikuti perkembangan globalisasi dan
memanfatkannya. Sebagian besar negara berkembang, termasuk Indonesia
malah sering menjadi obyek kemajuan dan kesiapan negara kaya. Yang terjadi
mengalirnya begitu banyak informasi dari negara -negara maju khususnya Barat
ke negara-negara berkembang. Atau terjadi unevent globalization, globalisasi
yang timpang (Lister et all, 2003:200).

Konsep free flow of information antarnegara di dunia yang pernah
diperjuangkan pada massa 1980 -an hanya menjadi wacana pada tataran
konseptual (Mc Bride, 1982). Prakteknya arus inf ormasi di media-media
internasional masih didominasi negara -negara maju, terutama Amerika Serikat.
Negara dunia ketiga lebih banyak menjadi penerima, tanpa mampu mengirimkan
secara seimbang informasi mengenai negaranya. Bahkan kalaupun ada informasi
dari negara berkembang, informasi tersebut berada dalam bingkai persepsi
negara-negara maju. Akhirnya yang tampil di media internasional lebih banyak
sisi negatif. Inilah yang kemudian memunculkan konsepsi imperialisme budaya.
Dimana negara Barat, khususnya Amer ika, melalui penyebaran informasi tadi
telah menyebarkan budaya mereka ke dalam kehidupan negara dan bangsa lain
di dunia. Dari informasi pemberitaan, film, lagu -lagu, hingga gaya hidup orang
Amerika, atau Barat menjaditre n d di berbagai negara termasuk Indonesia.
Dalam globalisasi bahasa tidak lagi menjadi penghalang. MTV misalnnya
bisa masuk mulus ke berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Lagu-lagu

Britney Spears, Michael Jackson , hingga musik hip hop Black Eye Peasdengan

lagu Where is the Love-nya. Ataupun juga demam fenomena American Idols yang
gaungnya sampai di pelosok dunia, termasuk Indonesia. Pop Culture yang
diproduksi secara massal di Amerika Serikat untuk kepentingan hiburan,
merambah secara global, merasuk ke mana -mana dengan menawarkanmitos
dan gaya hidup. Media-media global merambah dunia bukan hanya dengan
jaringannya yang luas,content yang menarik, tetapi di dalamnya juga
menawarkan mitos dan gaya hidup. Seakan dengan mengkonsumsi lagu -lagu
MTV, menjadi simbol semangat muda modern yang bebas. Sama halnya ketika
seseorang memakai sepatuNik e, mitosnya lebih sehat dan sportif. Atau

kesegaran dan jiwa muda dengan minum Coca Cola atauPepsi’s Nex

Generations dan sebagainya.

Mc Donald adalah sebuah contoh lain dari simbol yang sangat te pat dari
internasionalisasi aspek budaya Amerika dalam praktek bisnis yang merambah
seluruh dunia. Keberadaan McDonald hingga Moskow dan kota -kota Eropa
Timur yang lain, merupakan simbol yang amat tampak dari adanya pergeseran
dari ekonomi sosialisme menjadi ekonomi pasar di sana (Ritzer, 2000).
Keberhasilan McDonald membawa recipe standard dari pusatnya di AS melalui
strategi penyesuaian dengan selera lokal, telah mampu menancapkan kuku
‘invasinya’, baik di negara yang penduduknya mayoritas Muslim, Hindu, Budha
maupun Kristen. “They know local tastes — a beefburger is unwelcome in Hindu

India, a baconburger can not be sold in muslim countries — demands alterationsto the recipes. Mc Donalds must operate as much on local basis as it does on aninternational one if people are to consume the burgers and relish (Lister, et al,2003, 202).

Kondisi semacam ini tentu saja memunculkan kekhawatiran, bahkan krisis
kebudayaan di berbagai negara. Budaya lokal, baik yang berupa seni maupun
budaya pop lokal banyak yang terancam tersisihkan. Atau terkontaminasi dari
budaya global dari Amerika. Walhasil ada ketegangan -ketegangan karena
terjadinya benturan antara budaya global yang dianggap modern, dengan budaya
lokal yang mewakili semangat nasionalisme atau bahk an kedaerahan, tapi juga
yang berkesan tradisional.

Kekhawatiran atau penolakan globalisasi yang juga sering disebut dengan
Amerikanisasi ini muncul tidak hanya di negara berkembang ataupun negara
dunia ketiga. Di negara maju Eropa seperti di Perancis, Je rman, Itali bahkan
Inggrispun tak henti-hentinya muncul kritikan dan ketidaksukaan pada globalisasi
yang mereka nilai sebagai Amerikanisasi itu. Sebagaimana dikemukakan oleh
Simon Frith (2000), profesor dari University of Stirling, Scotlandia Inggris, yan g
mengatakan “At the end of nineteenth century, there has been a recurrent fear of

‘Americanization’, whether articulated in defence of existing European culture or
as and attack from the third world againt ‘cultural imperialism’, and it is easy
enough to envisage to media future in which MTV is on every screen, a
Hollywood film in every movie theatre. Disneyland in every continent. Meriah
Carey on every radio station, and Penthouse and Cosmopolitan in every

newsagent. How seriously should we take this pictures?

Kekhawatiran yang paling tampak justru muncul di negara tetangga dekat
Amerika Serikat, yaitu Kanada. Negara ini karena saking khawatirnya dengan apa
yang disebut “the invasion from the South”, pemerintahnya sampai memiliki
kementerian warisan budaya (Ministre of Cultural Heritage). Yang tugas
utamanya adalah menjaga budaya Kanada dari serbuan budaya dari Selatan
(Amerika Serikat). Kementrian ini memberikan kemudahan terhadap berbagai
produk budaya lokal di media massa. Disamping juga memberik an insentif
terhadap tumbuhnya film-film kanada maupun bentuk budaya yang lain.
Kanada layak khawatir, karena negara ini memang dibanjiri oleh media
dan produk budaya Amerika. Sementara pada tahun 1997 Kanada pernah
ditekan oleh World Trade Organisation (WTO), ketika melakukan pelarangan
terhadap peredaran majalah Sports Illustrated milik kelompok Time Warner
(Chesney, 2000:81).

Kanada tidak sendirian, Australia juga pernah mengalami tekanan dari
WTO pada bulan April 1998, berkait dengan ketentuan kuota i si media domestik.
Di negara-negara lain juga muncul isu sensitif adanya tekanan, untuk membuka
pasar medianya. Norwegia, Denmark, Spanyol, Mexico, Afrika Selatan, dan
Korea Selatan merupakan contoh yang memiliki tradisi memproteksi media
domestik dan industri budaya nasional mereka. Pemerintah negara -negara
tersebut mensubsidi film-film lokal dan berusaha melestarikan industri -industri
kecil produksi film mereka. Di musim panas 1998, menteri kebudayaan dari 20
negara, termasuk Brasil, Mexico, Swedia, It aly dan Pantai Gading, bertemu di
Ottawa membicarakan bagaimana mereka dapat membuat aturan dasar untuk
melindungi ongkos budaya dari “Hollywood juggernaut” (serbuan luar biasa dari
Hollywood). Rekomendasi pertemuan itu meminta agar perlindungan terhadap
kebudayaan lokal dikeluarkan dari kontrol WTO (Chesney, 2000: 82).

Kondisi globalisasi yang timpang tersebut memang tidak berarti ‘dunia
runtuh’, dan tidak pula semua orang menjadii pesimis. Ada suatu pemikiran yang
menarik tentang efek globalisasi buday a. Sebagaimana dikemukakan oleh
Richard Dawkins, ahli Biologi dari Oxford University, yang menunjukkan konsep
ketahanan sosial masyarakat dari perubahan. Dawkins ilmuwan selebritis dari
Inggris yang dikenal sebagai juru bicara teori Darwin dan penulis buk uSel fish

Gen (1978), mengungkapkan konsepsi meme dalam kehidupan sosial. Menurut

Dawkins setiap kelompok sosial memilikimeme, sebagaimana individu memiliki

gen yang akan senantiasa diturunkan kepada anaknya. Melalui meme, kelompok

sosial akan mempertahan karakteristik nilai-nillai sosial dan budayanya kendati
kelompok itu diterpa serbuan gencar budaya lain.Meme menyebar melalui
komunikasi dan sosialisasi, ia merupakan suatu unit informasi yang tersimpan di
benak seseorang, yang mempengaruhi kejadian di lingkungannya sedemikian
rupa sehingga makin tertular luas ke benak orang lain (Lull, 1998).

Bisa jadi karenameme, bangsa Jepang kendati maju seperti Barat, tetapi
budaya tradisional mereka tetap terpelihara dengan baik. Kesenian Tradisional
Jepang seperti Kabuki, Sumo, Karate, ataupun TarianYo sa k o i justru malah
berkembang dan dikenal di manca negara. Begitu pula orang Tionghoa, kendati
sudah ratusan tahun berada di negara lain, budaya mereka tetap bertahan,
dengan enclave China town di berbagai kota dunia. Tak heran kalau kalangan
Tionghoa di berbagai perantauan masih akrab dengan kesenian China daratan
seperti Barongsai, Liang Liong dan lain-lain. Ini juga berlaku untuk Orang Jawa
yang sudah tinggal ratusan tahun di Suriname.

Gerakanpostmodernisme juga memberikan angin segar bagi budaya lokal
dan seni tradisional. Ketika masyarakat sudah mengalami kejenuhan dengan
berbagai hal yang bersifat modern dan global, maka justru mereka kembali
kepada hal-hal bersifat etnik, tradisionil, atau dikenal dengan r etradisionalisasi.
Namun terlepas dari itu semua, meningkatnya globalisasi dan
komersialisasi dalam sistem media memang layak untuk dicermati dan
diantisipasi. Fenomena komersialisasi media global dirasakan secara signifikan
semakin menyatu dengan konsep neoliberal, ekonomi kapitalisme global. Hal
demikian tidak aneh mengingat meningkatnya pasar media global disamping
dikarenakan perkembangan teknologi digital yang baru dan teknologi satelit yang
membuat pasar global menjadi semakin efektif dan lukratif (menguntungkan),
sebenarnya juga dipelopori oleh institusi kapitalisme dunia, seperti World Trade

Organisation (WTO), World Bank, International Monetery Fund (IMF),Pemerin tah

Amerika Serikat dan Perusahaan -perusahaan Transnasional.

Dalam perkembangannya, sistem media global juga terbukti menurut
Robert W Chesney dalam pemberitaannya memiliki kebijakan mendukung misi –
misi WTO, IMF, NAFTA, GATT yang tak lain untuk mewujudkan sistem ekonomi
dunia yang bebas (neo liberal), yang jelas-jelas menguntungkan mereka

(Chesney, 2000, halxxxxiii). Kritikan dan kekhawatiran terhadap media dan
jurnalis yang mendukung kepentinganholdings dan kapitalisme, juga
dikemukakan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam Sembilan Elemen

Jurnalisme(2003).

Refrensi:

http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1820763-sejarah-seks-bebas/

http://sunatullah.com/tulisan-artikel/kebobrokan-budaya-barat.html

http://www.scribd.com/doc/5141678/Globalisasi-Budaya

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Globalisasi Budaya at do it yourself ღ.

meta

%d bloggers like this: